Tulisan ini terilhami ketika saya memberikan pembelajaran kepada para peserta Diklat Prajabatan Golongan III baru – baru ini. Pada saat diskusi tentang komitmen PNS mereka mengangkat isu ”save the earth”, disitu diangkat bagaimana peran PNS untuk ikut mendukung dan berperan aktif dalam usaha penyelamatan bumi ini, kemudian ketika besok harinya, saya juga baca di koran pagi, untuk memaknai Hari Bumi 2009, program earth hour, yaitu program mematikan lampu selama 60 menit pada 28 Maret 2009 sukses dilaksanakan di 3.900 kota besar di 88 negara didunia termasuk Jakarta. Sebelumnya Pemkot Banjarbaru juga telah melaksanakan program aksi satu jam tanpa listrik ini untuk seluruh kantor di lingkungan Pemkot Banjarbaru pada hari Jum’at (27/3/2009). Kemudian Walikota juga menghimbau agar sekolah – sekolah, masyarakat dan pihak swasta di Banjarbaru juga turut ambil bagian untuk mensukseskan program tersebut. Meski Cuma satu jam tanpa listrik tapi ini sangat berarti, baik sebagai kampanye penghematan sumberdaya listrik ataupun dalam upaya mengangkat kembali isu perubahan lingkungan seiring meningkatnya pemanasan global sekaligus mengurangi emisi karbon yang mengakibatkan efek rumah kaca.
( kalo ada yang masih belum ngerti apa itu efek rumah kaca, nich sedikit info. Para ahli memperkenalkan istilah efek rumah kaca untuk menggambarkan pemanasan global akibat terkurungnya radiasi. Istilah efek rumah kaca sebenarnya diambil dari cara petani menjaga suhu ruangan tetap hangat.
Seperti diketahui, kaca bersifat tembus sinar matahari. Sinar yang masuk tersebut sejatinya akan dipantulkan keluar namun pantulan tersebut dipantulkan kembali ke dalam oleh dinding kaca sehingga energi panas dari radiasi sinar matahari terperangkap di dalam rumah kaca. Dengan cara ini suhu ruangan di dalam rumah kaca tetap hangat setiap saat. Demikian juga fungsi atmosfer terhadap bumi. Ketika radiasi sinar matahari masuk ke bumi maka sebagian besar sinar tersebut akan dipantulkan kembali ke luar angkasa. Namun tidak seluruhnya radiasi sinar tersebut dipantulkan karena gas-gas di atmosfer seperti karbondioksida lebih dulu mengikatnya. Dengan mengikat radiasi sinar matahari maka suhu di bumi tetap hangat. Pada zaman dahulu jumlah karbondioksida di atmosfer masih sedikit dan dengan demikian sedikit pula radiasi sinar matahari yang diikat. Karena itu suhu bumi di masa lalu relatif lebih sejuk dibandingkan sekarang. Pemanasan global terjadi seiring dengan penebangan hutan, asap pabrik dan kendaraan, dan pertambangan karena akitivitas-aktivitas tersebut meningkatkan jumlah karbon dioksida diatmosfer secara luar biasa.
Ketika karbon dioksida semakin banyak maka semakin banyak pulalah radiasi sinar yang ditangkap. Karena setiap tahun jumlah karbondioksida di atmosfer bertambah maka suhu bumi semakin lama juga semakin panas. Para pakar lingkungan memperkirakan terjadi kenaikan satu derajat celcius setiap tahunnya.
Itu artinya jika suhu rata-rata di Indonesia pada tahun 2007 adalah 28 derajat Celcius, maka pada tahun 2017 sudah menjadi 38 derajat Celcius. Tentu saja kita tidak pernah mengharapkan hal ini terjadi.)
Hal ini tentunya adalah salah satu ”action” yang “smart” yang dapat ditunjukkan ditengah maraknya isu global warming yang mengakibatkan berbagai dampak, diantaranya : iklim mulai tidak stabil, peningkatan permukaan air laut, suhu global cenderung meningkat, gangguan ekologis, dan dampak sosial dan politik.
Namun tentunya aksi tersebut masih perlu tindak lanjut dan perlu dukungan aksi – aksi lainnya demi menyelamatkan bumi ini. Sekarang bagaimana caranya masyarakat awam ikut mendukung program ”save the earth ” ini ?
Tidak perlu ikut menjadi aktivis Greenpeace atau apapun itu demi menjadi seorang pecinta lingkungan (memang di saat pemanasan global kian menggila, polusi merajalela, cuaca tak beraturan seperti sekarang, memang selayaknya setiap orang menjadi pecinta lingkungan).
Bagaimana caranya? mudah saja. Berikut Live Science memberi 10 tips melindungi bumi dari kehancuran. Semuanya adalah cara-cara sederhana yang dapat kita mulai dari hari ini, saat ini dan dimulai dari diri sendiri. Apa saja itu?
1. Gunakan bola lampu jenis flurosen alias Fluorescent Lights (CFLs).
Lampu ini memang lebih mahal ketimbang lampu bohlam biasa. Tapi daya tahannya 10 kali lipat lebih lama dan yang pasti lebih hemat energi. Ini bukan iklan. Studi membuktikan bila lampu CFL menyerap energi 75 persen lebih sedikit daripada bola lampu kuning terang benderang biasa. Dalam setahun CFL mampu mengurangi produksi karbon dioksida hingga 500 pon. Ini setara dengan polusi yang dihasilkan 17 mobil di jalan raya selama satu tahun!
2. Hemat listrik di rumah.
Petuah klasik yang tak pernah ketinggalan zaman. Justru kian lama petuah ini kian dibutuhkan realisasinya, bukan sekadar teori. Padamkan lampu di siang hari. Matikan AC saat ruangan tak dihuni. Asal tahu saja rata-rata setiap rumah menghasilkan emisi gas rumah kaca dua kali lipat dari yang diproduksi sebuah mobil. Jadi jangan karena tidak mengeluarkan asap hitam dari knalpot mobil Anda maka Anda sudah merasa sebagai pahlawan lingkungan.
3. Jangan Gunakan plastik.
Sebisa mungkin hindari pemakaian plastik. Tas plastik memang banyak dipakai pasar swalayan maupun tradisional dalam mengemas belanjaan. Ada baiknya kita membawa tas kain atau kertas sendiri dari rumah dan menolak dengan halus tas plastik dari penjual. Mengapa? Plastik bukan bahan yang dapat hancur dengan sendirinya di pembuangan sampah. Sejumlah kandungan dalam bahan tersebut justru merusak kesuburan hayati tanah.
4. Maksimalkan penggunaan komputer.
Memang di era kini sudah jarang orang berkirim surat melalui pos. Tapi jangan salah, masih banyak perkantoran maupun pribadi yang lebih suka menyimpan dokumen atau surat-surat secara tradisional, yakni dengan dicetak di atas kertas. Memang ada beberapa surat berharga yang tak bisa tergantikan dengan surat elektronik. Namun selama sebuah dokumen dapat disimpan secara elektronik di komputer, usahakan lakukan itu. Asal tahu saja, kertas yang kita pakai telah sukses menggunduli hutan akibat perusahaan kertas telah menebang pohon-pohon sebagai bahan dasarnya.
5. Beli produk lokal.
Hentikan membeli produk pangan impor. Dengan mengonsumsi apa yang ada di dekat kita, maka kita berperan dalam mengurangi polusi dan pemborosan energi. Mengapa harus mengimpor daging sapi dari Australia jika sapi lokal tak kalah lezatnya. Bayangkan berapa energi dihabiskan dan polusi dihasilkan dari sekedar mendatangkan sosis Eropa atau keju Belanda ke meja makan Anda.
6. Praktikkan prinsip 3 R
Reduce, Reuse, Recycle. Kurangi konsumsi, gunakan kembali barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan, dan daur ulang bahan tertentu. Mengucapkannya memang mudah, tapi tidak menjalankannya. Hanya sekali memulai, kita akan terbiasa.
7. Pelan-pelan singkirkan energi tak terbarukan.
Agak sulit memang jika tak didukung dengan ketersediaan produk dan infrastruktur. Tapi bukan berarti tak mungkin. Kalau ada pilihan dimana kita bisa menikmati listrik dengan sumber sinar matahari atau angin, mengapa tidak? Lebih bersih dan hemat energi.
8. Bunuh produk penghisap listrik
Tanpa disadari, kita terus menerus membeli dan menggunakan produk yang menghamburkan energi. Televisi (TV) adalah salah satunya. Tanpa sadar sebuah keluarga kerap menyalakan TV tanpa henti 24 jam walau tidak ditonton. Begitu juga komputer, DVD player dan charger ponsel yang terus terhubung ke colokan listrik.
9. Kurangi pemakaian bahan kimia.
Bahan kimia bukanlah bahan alami. Seperti bahan buatan lainnya, bahan ini tak dapat lebur dengan sendirinya dan meninggalkan efek buruk pada kehidupan. Pestisida, obat nyamuk dan sejumlah bahan pembersih ruangan mengandung aneka komponen kimia yang tanpa sadar ikut kita hirup seumur hidup kita. Bahkan pangan sayur dan buah pun ikut membawanya ke dalam tubuh kita. Cara mengatasinya? Maksimalkan konsumsi bahan-bahan alami, termasuk sayuran organik.
10. Hijaukan rumah Anda!
Banyak di antara kita yang mengaku cinta lingkungan, cinta penghijauan, namun faktanya nyaris tak pernah menanam apapun di halaman rumahnya. Oke jika Anda tak punya halaman rumah. Setidaknya usahakan Anda memberi kesempatan bagi tumbuhan untuk hidup di sekitar. Tanaman gantung atau hidroponik cukup membantu bagi Anda yang tinggal di apartemen, rumah susun atau kos.